Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

“Sang ia” Menikam Kepada Jiwa yang Kobarannya Layu


Karya : Fitriani
Waktu meninggalkan peraduannya
Meninggalkan warna kehidupan bernuansa
Meninggalkan jiwa-jiwa yang tlah tua
Menghampiri jiwa muda yang layu kobarannya

Tatkala itu juga “sang ia” datang menikam
Perlahan dengan godaan yang menjanjikan
Janji masih adanya waktu !
Janji dengan kata ‘‘nanti” !
Ia tak ‘kan berhenti
Sampai jiwa muda bergelayut emosi
“Andai saja…”
“Jika saja…”
Tetapi semua tiada lagi berarti

Kesiasaan tlah menyelimuti
Melumpuhkan segenap lingkup diri
Langkah terasa terhenti
Tangan terpaku mati
Pikiran bak  peluru tak berisi
Semua hilang dengan pasti
Kecewa menandangi
Penyesalan terus menghinggapi

“Sang ia” seolah bertepuk senang
Melihat jiwa muda menyesali diri
Berperang dengan emosi
Mengumpat diri
Bahkan terpasung depresi

Duhai jiwa muda yang layu kobarannya !
Benahilah diri sebelum menyesali
Gerakkan hati untuk terus meyakini
Tak ‘kan ada lagi waktu kini bahkan nanti
Era tak ‘kan menunggu jejakmu
Dedaunan akan terus berganti
Angin musim akan berhembus pasti

Tanda tanya terbesit di hati
“Apakah engkau siap mati untuk kesiasaan diri,?”
Atau “engkau akan bangkit membunuh ‘sang ia’ yang datang menghampiri,?”
 Hanya jiwa muda yang mengetahui


Penulis merupakan mahasiswa prodi Ekonomi Pembangunan semester dua Universitas Almuslim dan aktif sebagai redaktur di LPM SA

Gelembung Harapan

Karya: Ulfia Dara
Dingin malam selimuti bumi
Langit gelap, atap kami
Kardus coklat persegi, tempat tidur kami
Sebutir beras, itulah harta kami

Kami tak meminta lebih
Hanya sesuap nasi dan seteguk harapan
Tapi tikus-tikus metropolitan berulah
Suka mencuri nasi aking kami

Adilkah?
Kami terseok-seok mencari sebutir keadilan
Digusur oleh roda-roda besi tanpa mata
Kami menjerit
Kami meronta
Semua sia-sia
Ditelan raungan roda-roda besi

Orang-orang berjas mahal
Menghembuskan gelembung-gelembung harapan
Namun seketika berubah
Asap-asap polutan menyelubungi
Gelembung indah tinggal harapan
Gelembung indah tak tahu arah

Disentuh.. blup !
Ditangkap..  hap !
Meletus..
Menghilang..
Layaknya buih dilautan


Penulis adalah mahasiswi semester I/A prodi B. Inggris Umuslim dan aktif di LPM SA

Kamuflase Negeri



Oleh Dita Putri Dwi Puspitasari

Indonesia merana
Sinabung berkabung
Tanah kering diinjak tawa
Derap kaki suka
Hutan hijau dilalap api
Sungai menangis
Indonesia tak beruntung

Badai Pasti Datang

Oleh Fitriani
Noktah hidup semakin menyusut
Meninggalkan dimensi yang telah terengut
Kabut kehidupan telah terganti
Kelam dan suram
Ketika suka berganti durja
Ketika senyum berteteskan air mata
Serangkaian melodi jiwa akan menyambut kehadirannya

Misteri kehidupan tak kan terungkap
Dalam samudra kehidupan yang terperangkap
Sepoi-sepoi angin kebahagiaan hilang
Bertandanglah badai kehidupan
Menepiskan semua cahaya kebahagiaan

Ketika itu datang
Semua yang dulu diper-Tuhan-kan
Tersisih di luar lubang
Tak kan ada penghalang
Tak kan ada bantuan
Hanya akan ada pertanggungjawaban

Keabadian akan tersusuri
Kehidupan yang abadi sejenak terengkuhi
Tanpa sadar, tanpa diketahui
Mimpi akan tersisihi
Perjuangan seakan tiada arti
Sanubari pun berbisik dalam sunyi
“Aku belum siap untuk ini Ya Rabbi”

Waktu terlanjur sudah terhenti
Ibaan tak kan ada guna lagi
Kini dan juga nanti
Detik ini, tetaplah berkeyakinan hati
“Badai itu akan datang !” dengan tersendiri


Penulis adalah Mahasiswi semester I/B Prodi Ekonomi Pembangunan FE. Facebook: Fitriani Rusydi

Toga Untuk Sahabat

Oleh Muhajir Juli
Kepada:  Almarhum Jarjani

Kawan,
Mimpimu agar aku segera wisuda
Kini telah terwujud
Ditengah ribuan jubelan manusia
Aku berdiri
Menunggu
Namaku dipanggil

Mengenang Kenangan

Karya: Mahdar

Teman
Dengarkanlah, disaat kita ceria
Di saat kita seperti ini
Cobalah sejenak mengenang kembali
              Teman
              Kenangan sahabat kita dulu
              Yang telah menutup mata
              Meninggalkan dunia yang fana ini  
Disaat kita bersama dulu
Disaat kita ceria seperti saat ini
Namun kuhanya berharap
Engkau semua mendo’akannya
              Do’akanlah dia wahai teman
              Semoga dirinya berada di Lindungan-Nya
              Semoga tenang jasadnya disana
              Terbaring diranjang surga
Ingatlah teman hidup ini sementara
Tiba saatnya kita juga kesana
Menyusul sahabat yang tercinta
Manghadap sang pencipta

Penulis : Muhammad Mahdar,
Mahasiswa FKIP Pend. Matematika Semester III
FB: Teuku Muhammad Mahdar

Senandung Perpisahan di Ujung Senja



Oleh Eka Rinika

Senja kian menguap
Berganti malam yang menghitam
Ketakutan menyayat hati
Ikut menjelma sembari merintis luka
Dalam diam tanpa kata
Waktu mengiris kenangan bersama
Melumpuhkan segala rasa
Saat ini menghampiriku tak kenal sapa
Hanya satu pandangan perpisahan
Menemani di antara perih tanpa air mata